Site icon BALIOKE.CO

Baduy Lestari, Dari Baduy Untuk Banten, Menanam Harapan Untuk Indonesia Yang Asri

Ditengah semakin kompleksnya persoalan lingkungan, ada sebuah pelajaran sederhana namun mendalam dari masyarakat adat Baduy.

Alam bukan sekadar tempat untuk hidup, tetapi amanah yang harus dijaga. Gunung teu meunang di rempag, Lebak teu meunang di urug, Nu ulah kudu di ulahkeun, nu enya kudu di enyakeun

Bagi masyarakat Baduy, hutan, tanah, air, dan lingkungan bukan sekadar sumber daya. Semuanya merupakan bagian dari keseimbangan kehidupan yang harus dihormati dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Berangkat dari nilai luhur itulah, kegiatan Baduy Lestari digagas oleh Perkumpulan Urang Banten (PUB) yang dikomandani oleh Komisaris Jenderal Polisi (Purn.) Drs. Taufiequrachman Ruki, S.H, sebagai sebuah ikhtiar bersama untuk menjaga lingkungan sekaligus mengangkat kearifan lokal masyarakat adat Baduy sebagai inspirasi bagi pembangunan yang berkelanjutan.

Ketua Panitia Baduy Lestari, Ahmad Yani menyebut, kegiatan yang digelar bukan sekadar kegiatan pembagian bibit dan bukan pula sekadar seremoni penghijauan.

“Baduy Lestari adalah ajakan untuk membangun kesadaran bersama bahwa menjaga alam merupakan tanggung jawab kita semua,” ujarnya.

“Pemerintah, masyarakat adat, komunitas, dunia usaha, organisasi masyarakat, akademisi, generasi muda, dan seluruh elemen masyarakat Banten memiliki peran yang sama pentingnya,” imbuh Ahmad Yani.

Ahmad Yani menjelaskan, semula, kegiatan dan Deklarasi Baduy Lestari direncanakan pada 17 Oktober 2026. Namun, setelah mempertimbangkan agenda adat masyarakat Baduy, khususnya Ngaseuk Huma Bares Kolot yang diperkirakan berlangsung hingga 20 Oktober, pelaksanaan kemudian disesuaikan menjadi 25 Oktober 2026.

Perubahan tersebut menurutnya, merupakan bentuk penghormatan terhadap tata kehidupan dan kalender adat masyarakat Baduy.

“Dalam gerakan ini, sebanyak 70.000 bibit dipersiapkan untuk mendukung penghijauan dan pelestarian lingkungan,” ungkap Ahmad Yani.

Selain itu, lanjut Ahmad Yani, distribusinya menjangkau 68 kampung adat Baduy, terdiri dari 3 kampung Baduy Dalam dan 65 kampung Baduy Luar.

Ahmad Yani menerangkan, bibit tersebut merupakan bantuan dari Pusat Pembibitan Rumpin, Bogor.

Sementara dukungan pembiayaan distribusi dan pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui semangat gotong royong Sasieur Sabeunyeur.

Yang menarik, sambung Ahamd Yani, bibit-bibit tersebut tidak hanya akan ditanam di kawasan tanah adat Baduy.

“Sebagian lainnya akan ditanam di lahan-lahan huma di luar tanah adat yang tersebar di 8 kecamatan di sekitar kawasan Baduy,” ungkapnya.

Hal ini, dikatakan Ahmad Yani menunjukkan bahwa Baduy Lestari tidak dimaksudkan sebagai gerakan yang dibatasi oleh batas wilayah adat. Sebaliknya, gerakan ini ingin membangun kesadaran ekologis yang lebih luas dengan memperkuat kawasan penyangga di sekitar wilayah adat.

“Dari tanah adat menuju kawasan penyangga, dari Baduy menuju Banten semangat menjaga alam harus bergerak melampaui batas-batas wilayah,” pungkas Ahmad Yani.

Baduy Lestari, Inspirasi Gerakan Banten Lestari

Kegiatan dan deklarasi Baduy Lestari yang akan dilaksanakan pada 25 Oktober 2026, akan dihadiri oleh Gubernur Banten sebagai bentuk dukungan dan komitmen kepala daerah bersama masyarakat untuk mewujudkan serta melanjutkan gerakan ini secara berkesinambungan.

Kehadiran Gubernur diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antara pemerintah daerah, masyarakat adat, organisasi masyarakat, komunitas, dunia usaha, dan seluruh pemangku kepentingan. Sebab gerakan pelestarian lingkungan tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja.

Ketua Panitia Baduy Lestari, Ahmad Yani menyebut, Pemerintah memiliki kebijakan dan kewenangan. Masyarakat adat memiliki kearifan. Komunitas memiliki energi gerakan. Dunia usaha memiliki sumber daya. Dan masyarakat memiliki kekuatan gotong royong.

“Jika semuanya disatukan, maka gerakan yang dimulai dari Baduy dapat berkembang menjadi gerakan ekologis Banten yang nyata dan berkelanjutan,” tandasnya.

Kegiatan Baduy Lestari harus menjadi lebih dari sekadar pernyataan, namun harus menjadi komitmen menjadi gerakan. Gerakan harus menghasilkan perubahan.

“Kita tidak ingin kegiatan ini selesai ketika acara selesai. Kita ingin setelah deklarasi, gerakan justru dimulai, Bibit ditanam, Pohon dirawat. Hutan dijaga.
Sumber air dilindungi, lahan huma dipelihara, budaya dihormati dan semangat itu terus dilanjutkan dari generasi ke generasi,” papar Ahmad Yani.

Mungkin kita tidak akan menikmati seluruh manfaat dari pohon yang kita tanam hari ini, Tetapi, tambah Ahmad Yani, anak-anak dan cucu kita kelak mungkin akan berteduh di bawahnya, menikmati udara yang lebih baik, melihat hutan yang tetap hijau, dan merasakan manfaat sumber air yang tetap terjaga.di situlah makna terdalam Baduy Lestari.

“Dari Baduy kita belajar kearifan. Dari Banten kita bangun gerakan. Dari Indonesia kita bangun kesadaran bersama. Baduy Lestari untuk Banten Lestari. Banten Lestari untuk Indonesia yang Asri. Mari kita bergerak bersama, bukan hanya menanam pohon, tetapi menanam harapan, menjaga kehidupan, dan mewariskan alam yang lebih baik kepada generasi mendatang,” urai Ahmad Yani menutup.

BADUY LESTARI, ALAM TERJAGA, MASYARAKAT SEJAHTERA DAN BUDAYA TETAP TERPELIHARA.

Bersama Menanam Harapan, Menjaga Kehidupan

Exit mobile version