BALIOKE.CO – Provinsi Bali genap berusia 68 tahun pada 14 Agustus 2026. Di tengah perubahan teknologi, ekonomi, dan dinamika global yang semakin cepat, Bali diingatkan untuk terus berkembang tanpa kehilangan jati diri yang bertumpu pada adat, budaya, dan kelestarian alam.
Pesan tersebut disampaikan dalam sambutan Gubernur Bali yang dibacakan Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra pada upacara peringatan Hari Jadi ke-68 Provinsi Bali di Loby Atiti Wisma Kantor Bupati Buleleng, Jumat (14/8).
Hari Jadi Provinsi Bali diperingati setiap 14 Agustus, merujuk pada penetapan Bali sebagai daerah otonom dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia pada 14 Agustus 1958.
Dalam sambutan Gubernur, peringatan hari jadi tidak semestinya berhenti sebagai agenda seremonial. Usia 68 tahun menjadi momentum untuk melihat kembali perjalanan pembangunan Bali sekaligus menghargai perjuangan para pendahulu yang telah meletakkan fondasi kehidupan masyarakat Bali.
“Peringatan Hari Jadi ke-68 ini hendaknya tidak hanya dimaknai sebagai seremoni tahunan, tetapi juga sebagai ruang refleksi atas perjalanan pembangunan Bali serta bentuk penghormatan terhadap jasa para pendahulu yang telah meletakkan fondasi bagi kehidupan masyarakat Bali hingga saat ini,” kata Sutjidra saat membacakan sambutan tersebut.
Tantangan Bali ke depan tidak semakin ringan. Perkembangan teknologi, perubahan sosial, pertumbuhan ekonomi, hingga pengaruh global membawa peluang sekaligus risiko bagi keberlangsungan identitas Bali.
Karena itu, adat, tradisi, seni, dan budaya dinilai tidak cukup hanya dipertahankan sebagai peninggalan masa lalu. Seluruh kekayaan tersebut perlu terus hidup dan beradaptasi dengan zaman, sekaligus menjadi modal untuk membangun Bali yang kreatif, mandiri, dan berdaya saing.
Semangat itu antara lain tercermin dalam Pesta Kesenian Bali XLVIII yang mengusung tema “Atma Kerthi: Jiwa Sidha Parisudha”. Tema tersebut menempatkan kebudayaan bukan sekadar sebagai pertunjukan, tetapi sebagai bagian dari upaya membangun manusia dan kehidupan masyarakat yang lebih baik.
“Melalui berbagai kegiatan seni dan budaya, Bali terus memperkuat identitasnya sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Bali kepada masyarakat nasional maupun dunia,” ujarnya.
Peringatan Hari Jadi ke-68 juga menjadi momentum untuk kembali memperkuat Nangun Sat Kerthi Loka Bali, konsep pembangunan yang menekankan keseimbangan antara alam, manusia, dan kebudayaan.
Nilai tersebut dinilai semakin penting di tengah tekanan pembangunan dan perubahan global. Karena itu, pembangunan Bali membutuhkan keterlibatan berbagai unsur masyarakat, mulai dari pemerintah, masyarakat, dunia pendidikan, pelaku usaha, hingga seniman dan budayawan.
Generasi muda juga ditempatkan sebagai salah satu kunci keberlanjutan Bali. Penguasaan teknologi dan kemampuan berinovasi dinilai perlu berjalan beriringan dengan kecintaan terhadap adat dan budaya.
Dengan demikian, generasi muda tidak hanya menjadi penerima warisan budaya, tetapi juga memiliki ruang untuk mengembangkan dan meneruskannya sesuai tantangan zaman.
“Peringatan Hari Jadi Provinsi Bali ke-68 menjadi momentum untuk memperkuat persatuan dan gotong royong seluruh krama Bali,” kata Sutjidra.
Ia menambahkan, sinergi seluruh elemen masyarakat diperlukan untuk mewujudkan pembangunan Bali yang berkelanjutan dan berkeadilan, tanpa meninggalkan nilai-nilai yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat Bali.











