BALIOKE.CO – Kemerdekaan tidak hanya dirayakan dalam ingatan, tetapi dihidupkan melalui karya, ketekunan, dan cinta pada tanah air. Semangat inilah yang terpancar dari Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Agama saat menyemarakkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Mereka menggelar Lomba kreasi kuliner bertema nuansa “Merah Putih” dengan menggunakan bahan dasar umbi-umbian lokal. Bahan pangan lokal itu mereka sulap menjadi sebuah makanan camilan lezat dan sarat makna.
Acara ini diikuti 10 peserta dari unit kerja eselon I Kemenag. Beragam kreasi olahan umbi disajikan dalam bentuk cake atau bolu yang sehat dan higienis. Hasilnya, tim Bimas Kristen menyabet Juara 1, disusul Inspektorat Jenderal (Itjen) dan Bimas Islam sebagai Juara 2 bersama, serta BMBPSDM di posisi Juara 3.
Kemenangan Tim Kreasi Cake Bimas Kristen membawa cerita unik. Karya yang dinamakan “Cake Singkong Kemerdekaan” ini lahir dari tangan pengurus Dharma Wanita Bimas Kristen, yang mengaku tanpa pengalaman sebelumnya dalam membuat cake, apalagi mengikuti lomba. Namun mereka berani memikirkan inovasi dan membuat cake dengan berbahan dasar singkong.
Singkong dipilih bukan tanpa alasan, kata Yemima perwakilan tim. Selain singkong adalah sebagai representasi bahan pangan lokal yang paling dekat dengan kehidupan masyarakat, Singkong dinilai lebih mudah diolah menjadi cake dengan tekstur yang lembut.
“Kami awalnya bingung karena tidak pernah bikin cake sama sekali. Kami kemudian melihat tutorial di YouTube dan akhirnya mendapat ilham,” ujarnya, Selasa (18/8/2026).
Untuk membuat cake berukuran besar tersebut, singkong yang telah diparut, dicampurkan dengan gula, tepung terigu, dan telur. Mereka juga membuat sendiri cream cheese dari susu full cream, tepung maizena, dan keju sebagai pelengkap setiap lapisan cake.
Dari cerita Yemima dalam pembuatan cake yang berlangsung sembilan jam ini, terlihat kegigihan tim, untuk menyelesaikan cake, mulai dari mengolah adonan hingga menentukan desain dan menghiasnya.
Sekalipun ada tantangan yang tidak nampak, namun terlihat pada hasil akhirnya. Terjadi dinamika tim mulai dari diskusi panjang, perbedaan pendapat, hingga menjadi kerja sama yang baik untuk menyelesaikan karya, karena disatukan oleh tekad yang sama.
“Tantangannya banyak karena kami tidak pernah membuat cake sebelumnya. Untuk menghias juga harus berdiskusi bagaimana desainnya, karena ada yang ingin begini dan ada yang ingin begitu,” katanya.
Selain mengutamakan tampilan, tim juga menyesuaikan rasa cake agar tidak terlalu manis. Mereka mempertimbangkan karakter konsumen, terutama ibu-ibu dan orang tua, yang umumnya tidak menyukai makanan terlalu manis.
“Kami sempat berpikir, ini bakal disukai atau tidak. Kelihatannya memang banyak krim, tetapi krimnya kami buat sendiri. Rasanya tidak terlalu manis dan tidak enek karena ada campuran keju dan susu,” ujarnya.
Cake tersebut kemudian dihias dengan nuansa merah putih sebagai simbol kemerdekaan. Bagi tim, singkong tidak sekadar dipilih karena mudah diperoleh, tetapi juga memiliki makna tersendiri.
Baginya, nilai filosofi cake yang dibuat dari bahan yang sederhana, dapat menjadi sebuah cake yang lezat dan bernilai, seperti perjalanan bangsa Indonesia yang dibangun dari kesederhanaan, perjuangan, dan semangat untuk terus berkembang.
Sentuhan warna merah putih pada kue, untuk mempertegas makna yang diusung. Warna yang melambangkan keberanian dan kesucian itu menjelma menjadi pengingat bahwa kemerdekaan harus terus diisi dengan kreativitas dan kebanggaan terhadap karya anak bangsa.
Yemima sempat menitikkan air mata, karena tak menyangka dapat memenangkan lomba ini bersama timnya. Kemenangan ini menjadi pengalaman tersendiri baginya. Dari ketidaktahuan membuat cake, mereka belajar melalui tutorial, berdiskusi, membagi tugas, hingga akhirnya menghasilkan cake berbahan singkong yang membawa mereka menjadi juara pertama.
Dalam penilaian lomba, menurut Penasehat DWP Kemenag Helmi Nasaruddin Umar, selaku tim Juri, seluruh cake dinilai berdasarkan sejumlah aspek, antara lain rasa, kreativitas penyajian, kelembutan tekstur, kebersihan, serta proses pembuatannya. Panitia juga melihat dokumentasi video untuk memastikan cake benar-benar dibuat oleh masing-masing peserta di rumah.
Juri mengakui seluruh peserta menghasilkan cake yang baik. Namun, aspek penilaian yang telah ditentukan menjadi dasar dalam menentukan pemenang.
“Semua kuenya bagus dan rasanya juga enak. Tetapi ada penilaian khusus, mulai dari rasa, kreativitas penyajian, kelembutan cake, sampai kebersihannya,” ujarnya.
Kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai perlombaan dalam rangka peringatan kemerdekaan. Kreasi berbahan pangan lokal yang dihasilkan peserta juga didorong untuk dipraktikkan kembali di rumah.
“Jangan hanya menjadi seremonial di acara seperti ini. Saya berharap hasil kreasi ini dipraktikkan di rumah,” pesannya.
Hadir dalam acara ini, Menteri Agama Nasaruddin Umar bersama pejabat eselon I Kemenag, yang turut mencicipi kreasi cake Umbi dan minuman rempah nusantara.
Cake itu pada akhirnya tidak hanya menjadi sajian dalam perayaan kemerdekaan. Ia menjadi bukti bahwa bahan pangan sederhana seperti singkong dapat diolah menjadi karya kreatif ketika dipadukan dengan kemauan belajar, kolaborasi, dan keberanian mencoba sesuatu yang sebelumnya belum pernah dilakukan.











