oleh

Dari Generasi ke Generasi, Rojali Kite Festival Jaga Tradisi Layang-Layang Tanjung Benoa

BALIOKE.CO – Langit Pantai Tanjung Benoa, Kuta Selatan, Badung, kembali dihiasi layang-layang dalam Rojali Kite Festival, Minggu (30/8/2026). Festival yang digelar Sekaa Teruna Eka Purwa Kanthi Yowana, Banjar Purwa Santhi, Desa Adat Tanjung Benoa, itu menjadi bagian dari peringatan hari ulang tahun ke-48 sekaa teruna sekaligus upaya menjaga tradisi layang-layang di tengah masyarakat.

Rojali Kite Festival tahun ini merupakan penyelenggaraan yang kedua. Kegiatan tersebut digelar sebagai bagian dari tradisi festival layang-layang di kawasan Tanjung Benoa yang pelaksanaannya dilakukan setiap empat tahun sekali secara bergiliran berdasarkan ririgan dari masing-masing banjar.

Baca Juga  Pemkot Denpasar Masuk 10 Besar Kepatuhan Pelayanan Publik se-Indonesia Tahun 2024

“Ini merupakan event empat tahun sekali. Penyelenggaraan event layang-layang di Tanjung Benoa dilakukan secara bergiliran berdasarkan ririgan dari masing-masing banjar,” kata Ketua Sekaa Teruna Eka Purwa Kanthi Yowana, I Wayan Kasu Wardana.

Kasu menjelaskan penyelenggaraan Rojali Kite Festival untuk kedua kalinya menjadi pijakan bagi sekaa teruna untuk terus melestarikan permainan layang-layang. Tradisi tersebut, kata dia, sekaligus menjadi sarana memperkuat kebersamaan dalam komunitas.

Baca Juga  Jenderal Dudung Meneteskan Air Mata di Rumah Duka Sertu Eka, Tegas Bilang Begini

“Penyelenggaraan yang kedua ini menjadi landasan kami untuk melestarikan layang-layang itu sendiri sebagai penguat kebersamaan dalam komunitas,” ujarnya.

Pada penyelenggaraan tahun ini, panitia membuka 14 kategori perlombaan. Beberapa di antaranya kategori plastik, remaja, big plastic, dan mini. Seluruh perlombaan dipusatkan di Pantai Tanjung Benoa.

Kasu mengatakan keberagaman kategori tersebut diharapkan dapat membuka ruang partisipasi yang lebih luas bagi masyarakat, khususnya generasi muda.

Baca Juga  PENDIDIKAN TINGGI: FEBS Institut Tazkia Jalani Asesmen Lamemba

“Dengan begitu, tradisi layang-layang tidak berhenti sebagai kegiatan perlombaan, tetapi tetap hidup melalui keterlibatan komunitas dari satu generasi ke generasi berikutnya”,tuturnya.

Bagi dia, momentum tersebut menjadi kesempatan untuk mempertemukan kegiatan kepemudaan, tradisi, dan kebersamaan masyarakat dalam satu kegiatan di ruang terbuka.

 

News Feed