oleh

Pegang Pangrupak dan Daun Lontar, Cara Anak Muda Buleleng Jaga Warisan Leluhur

BALIOKE.CO – Generasi Z di Buleleng ternyata tak hanya akrab dengan gawai dan media sosial. Mereka juga menunjukkan ketertarikan serius terhadap tradisi kuno nyurat lontar, praktik menulis aksara Bali di atas daun lontar yang sudah diwariskan turun-temurun.

Hal itu tampak jelas dalam Workshop Nyurat Lontar yang digelar oleh UPTD Gedong Kirtya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Buleleng. Kamis, (17/9) di Wantilan Sasana Budaya. Pesertanya melibatkan 109 siswa-siswi dari 9 sekolah di Kecamatan Gerokgak. Nyurat lontar sendiri merupakan tradisi menulis atau mengukir aksara Bali pada daun lontar.

Baca Juga  Tiga Sekehe Gong Kebyar Duta Denpasar Siap Tampil Terbaik di PKB XLVII Tahun 2025

Menurut Kepala UPTD Gedong Kirtya, Dewa Ayu Putu Susilawati, upaya melibatkan generasi muda dalam pelestarian lontar sudah digelar secara rutin. Penyuluh Bahasa Bali setempat sering mengadakan pelatihan dan lomba nyurat lontar di tingkat desa maupun sekolah. Kegiatan serupa juga menjadi bagian dari Bulan Bahasa Bali yang digelar setiap tahun. Tujuannya jelas: agar aksara dan sastra Bali tidak hanya tinggal di museum atau koleksi pribadi, melainkan terus hidup di tangan generasi baru.

Baca Juga  PERTAHANAN: DPR Dukung Angkatan Darat Perkuat Satuan Siber

Kehadiran Gen-Z dalam kegiatan ini kata Dewa Ayu sangatlah penting. Di tengah derasnya arus digital, minat mereka terhadap tradisi yang membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan keterampilan manual menjadi sinyal positif. Mereka tidak hanya menonton, tetapi langsung memegang pangrupak (pisau tulis khusus), menorehkan aksara di atas permukaan lontar, lalu menggosoknya dengan serbuk tingkih agar tulisan tampak jelas.

Baca Juga  Advokat Sebagai Pancawangsa Penegak Hukum; PERADI PROFESIONAL Dorong Kesetaraan Advokat sebagai Aparat Penegak Hukum Indonesia

Dengan semakin banyaknya anak muda yang tertarik belajar nyurat lontar, Dewa Ayu berharap agar tradisi ini terus hidup di Buleleng semakin terbuka. Bukan hanya sebagai atraksi budaya, melainkan sebagai praktik hidup yang diwariskan dengan penuh kesadaran.

News Feed